Blog

September 28, 2013

Ini kisah tentang mencari kesempurnaan.

Diceritakan oleh Dr Jabir Ashfour dalam bukunya Difa ‘an mar’ah. Ia menuturkan sebuah dialog dengan dosen pembimbingnya, Suheir al-Qalmawi. Akibat keinginannya untuk memperbaiki dan menulis kembali bab pertama dan kedua disertasinya, yang padahal telah selesai didiskusikan dengan sang pembimbing dan dianggap sempurna. Tapi ia masih ingin memperbaikinya lagi!

Sang dosen menolak, menyembunyikan naskahnya dan menuturkan kisah salah satu novel karya seorang novelis terkenal Prancis, Emile Zola (1840-1902). Tentang kisah seorang pelukis muda yang ingin mendapatkan kemasyhuran, sekali saja, dengan satu lukisan yang mampu membuat dunia berdiri menghormatinya.

Dia ingin memamerkan lukisan tersebut pada pameran seni modern. Dia mengurung diri bersama sang model yang mencintainya. Dia mulai melukis, tapi kemudian menghapus lukisan itu karena tak puas terhadap hasilnya. Kemudian melukis kembali, menghapusnya lagi, terus melukis dan menghapusnya lagi.

Waktu bergulir dengan cepat. Pameran telah dibuka. Namun dia belum selesai dari pekerjaannya. Akibat tak pernah puas terhadap hasil lukisannya. Dia berharap dapat memamerkan lukisannya pada pameran berikutnya, yang penting adalah mengerjakan apa yang belum dikerjakan oleh orang lain sebelumnya. Berlalulah pameran pertama, kedua, ketiga dan keempat, sedangkan lukisan tersebut belum juga selesai.

Lama-kelamaan, pelukis malang itu menjadi gila, sampai akhirnya dia merobek lukisannya dengan sebilah pisau, mencabik-cabik jasad sang kekasih yang menjadi model lukisannya, kemudian membunuh dirinya sendiri.

Setelah bercerita, sang dosen, Suheir al-Qalmawi, berkata kepada muridnya, Jabir Asfour: “Tidak mungkin bagi seseorang untuk sampai kepada kesempurnaan. Kesempurnaan adalah contoh ideal yang berusaha kita capai sepanjang umur kita. Cukuplah kita melakukan kewajiban kita setiap saat, sesuai dengan batasan kemampuan kita, untuk mencapai puncak tertinggi yang bisa kita capai dalam karya dan usaha. Setiap kali kita mencapai sesuatu, kita belajar dari apa yang kita capai. Dengan capaian ini kita mendekati kesempurnaan itu, yang justeru menjauh dari kita, sesuai dengan kedekatan kita darinya. Seakan-akan ia ingin mendorong kita untuk terus naik ke anak tangga berikutnya, menuju karya yang tidak ada batasannya.”

Penulis: Suhardiansyah 620

Artikel
About Visi Kita