Blog

March 22, 2014

Kisah Lucu Ketika Praktik Mengajar di Gontor

Suatu hari sohib kami mendapat jatah amaliatu tadris. Tepat sehabis subuh dia begerilya ke kelas yang akan dieksekusi. Semua perlengkapan telah dipersiapkan dengan baik, mulai dari jam dingding, taplak meja, penghapus dan kapur tulis telah dipersiapkan dengan baik. Bahkan kebersihan kelas pun tidak luput dari perhatiannya, dengan harapan amaliyah tadris dapat berjalan lancar sebagaimana yang diharapkan.

Jaros pun berdentang, team pun segera bergerak mengarak sang sohib bagaikan pengantin pria. Setiba di lokasi, dengan sigap kelas kami kuasai dan dikondisikan sedemikian rupa sehingga amaliyah tadris pun layak untuk diselenggarakan.

Dengan penuh percaya diri, Sang Sohib pun masuk ke kelas dan bergerak sedemikian rupa untuk menguasai kondisi, Satu persatu langkah-langkah amaliyah tadris yang telah dipersiapkan dapat dijalani dengan baik. Kami pun berdecak kagum dengan persiapan yang begitu matang, nyaris tidak ditemukan kesalahan sedikitpun.

Namun…, disaat para santri sibuk menulis materi pelajaran yang telah ditulis olehnya di papan tulis, sang sohib berpatroli menyusuri sudut kelas, Ditemukanlah seorang santri yang tidak menulis. Dengan penuh wibawa didekatinya santri tersebut, lalu ditanya: “Limadza la taktub” Santri dengan gemetaran menjawab: “Afwan yal-akh ana la ahmil qolam.” Dengan penuh kasih sang sohib mengambil pulpen dari saku jas dan diberikan kepada santri itu seraya berkata: “La tansa marotan ukhro” Sang santri pun menjawab” Na’am yal-akh”.

Akhirnya sang sohib pun kembali ke tempat duduknya, guna memanfaatkan waktu luang yang tersisa dan sebagaimana yang telah dipersiapakan di dalam langkah amaliya, sang sohib pun mengambil kasful giyab guna memeriksa kehadiran para santri. Disaat dia bersiap mengambil napas untuk menyebut santri satu persatu sambil merogoh saku jasnya, bahkan sambil berdiri sang sohib merogoh kantong celananya, dengan muka panik seraya berkata: “Qolami aina?”.

Ditatapnya santri yang diajak bicara tadi, didekatinya, kemudian sang sohibpun berkata: “Afwan akhi…, astair qolam”. Sontak muka kami memerah semua, menahan tawa yang amat sangat. bahkan kami pun harus menutupi muka dengan jas agar suara “cekikikan” tidak dapat terdengar oleh para santri yang sedang sibuk menulis.

oleh: Ichank

Cerita dua

Pada suatu kali pada sebuah acara Amialiah Tadris (Praktek Mengajar) di Gontor, kami kelas enam dibagi menjadi beberapa kelompok untuk parktek mengajar, lalu cara mengajar kita itu akan didiskusikan bersama Ust pembimbing. Nah, salah satu Ust pembimbing di kelompok kami adalah Alm Ust Arifin. Seperti biasa, jika kritik kepada Guru/pengajar kelas enam itu sudah disampaikan oleh teman kami sebelumnya, maka biasanya kami menyebut kata “Madzkur” (Secara bahasa artinya, sudah disebut). Dan begitu juga saat itu, ketika kritik kami sama, maka kami pun menyebut kata Madzkur.

“Laa Taquul Madzkur-Madzkur daaiman…!!” Teriak ust Arifin mengejutkan kami.

Kamipun bertanya-tanya, kenapa tidak boleh menyebut kata Madzkur?? Tentu saja dalam hati….

“Law taquulu Masnun, Fa idzan Sinnuka Maridh hakadza? Fa idza taquul mabtun, fa bathnuka maridh hakadza?? Fa idza Taquulu MADZKUR, maa ashobaka bil marodh??”

Kamipun tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Tapi beliau tetap diam tanpa senyum…hi..hi…Allahuma Irhamhu….

Oleh: Oky

Gontorian , , , ,
About Visi Kita