Blog

April 7, 2015

(REUNI) KE GONTOR, APA YANG KAU CARI?

Tajammu’ Marhalah selesai, Alhamdulillah.. Selamat dan sukses untuk semua. Terima kasih untuk panitia, para ustadz dan juga ma’had yang menerima kita.

Sebelum datang, antum tentu sudah memperhitungkan waktu yang dialokasikan, jauhnya jarak dan lelahnya badan, biaya dan uang yang harus disisihkan, juga hal-hal lain baik anak-istri-pekerjaan yang ditinggalkan, termasuk resiko dalam perjalanan; apakah semua pengorbanan itu mendapat output yang sepadan?

Jawabannya kembali pada motivasi individu dengan masing-masing standar kepuasan.

Bagi saya sendiri, apa yang saya dapat bukan hanya sepadan namun melebihi ekspektasi. Saya mendapat banyak sekali bonus dari kegiatan ini. Jika pertemuan dalam reuni ini adalah untuk mengobati kerinduan kepada ma’had — setelah sekian waktu tak bertemu, maka mahalnya ‘biaya’ yang harus saya keluarkan itulah harga yang harus saya bayar untuk sebuah penawar.Selebihnya adalah bonus: foto-foto bersama sambil nostalgia, dapat update kontak kawan lama, tajammu’ bi salatoh rohah, recharge mindset dengan tausiyah min mudir, sampai terbukanya peluang bisnis baru hingga transaksi batu akik yang dilakukan beberapa sahabat kita, menjadi bumbu yang ikut mensukseskan acara dalam kesempatan itu.

Jika pondok dan unsur-unsurnya termasuk pada guru adalah ‘ibu’, sejujurnya tak ada kamus yang pantas untuk memadankan kata mantan di situ. Tak ada mantan guru sebagaimana tak layak ungkapan mantan disematkan sebelum kata ibu.
Semua ibu dan semua yang pernah mengajarkan ilmu sejatinya adalah tetap guru.

Itulah mengapa ilmu yang bermanfaat (ilmun yuntafa’u bihi) adalah salah satu amalan yang tak akan terputus bahkan sampai kita mati nanti.
Kedatangan kita ke Pondok untuk temu kangen dilatari perpaduan beragam motivasi. Unsur terbesar, dan mungkin terpenting, bagi saya adalah kehadiran itu sendiri.

Hadirnya antum menjadi amat berarti karena ketidakhadiran bisa menjadi lawan dari keterlibatan aktif.
Antum yang hadir, otomatis terlibat mensukseskan acara ini, dengan skala peran yang berbeda, dengan sumbangsih pengorbanan yang tentu tak sama.

Kita layak untuk saling berterima kasih pada semua yang hadir tanpa harus menyalahkan mereka yang tidak mampu hadir.

Kehadiran membutuhkan pengorbanan. Dan saat kita mampu hadir, rasanya tidak lagi menjadi penting siapa yang paling aktif bicara dan bercerita, atau siapa yang cuma mendengar saja.

Kehadiran dengan membawa badan, jiwa dan pikiran yang sehat sudahlah cukup. Bahkan mereka yang hanya diam sebenarnya tak benar-benar diam, karena memori kita tanpa bisa dibendung dengan sendirinya menjelajah dan berkelana kemana-mana.

Kita tak sanggup membendung jutaan memori menerobos ruang dan waktu, mengingat setiap sudut tempat yang penuh kenangan baik-buruk, mengingat siapa saja yang pernah menampar kita, mengingat di sudut mana pernah dihabisi oleh mudabbir atau keamanan dan petugas bahasa, kita mengingat semua..

***

Saya cukup tersentak dengan salah satu kata ustadz Ismail dalam welcoming speech saat momen penyambutan.
“Rasanya,” kata beliau,”kalian tak akan bisa menahan rindu dan dendam pada pondok sampai 20 tahun.” Wow! Ada kata dendam di situ. Saya kira kita hanya menyimpan rindu. Ternyata ada juga dendam. Sesuatu yang saya kira hanya kiasan. Tapi faktanya memang masih banyak sekali dendam. Berkali-kali saya mendengar penggalan cerita teman-teman, “Di pondok ini, saya dendam sekali dengan si ini, si itu,” dll.

Lima belas tahun..

Saya tidak dalam posisi ingin membatasi dendam seseorang. Percuma. Saya juga tidak berusaha menasehati atau menahan cerita dendam itu ketika teman-teman menumpahkannya. Tumpahkanlah. Teramat banyak cerita dan teramat sedikit waktu berbagi. Memori yang bisa ditumpahkan mungkin hanyalah “yang penting-penting saja”. Dan dendam itu, hehe, rupanya menjadi salah satu bagian penting yang tersimpan dalam memori bawah sadar dan beberapa di antara kita merasa perlu menumpahkannya — meski cara berceritanya juga dengan tertawa-tawa.

Waktu berganti, masa berubah. Saya juga salah satu yang pernah merasakan tamparan tersadis hingga telinga bocor atau pukulan rotan hingga patah dan badan berdarah-darah.

Dendamkah saya? Tentu. Dendam sekali. Andai saya bisa membalas, rasanya ingin saya timpuk batu sambil saya akan olesi mata orang yang memukul saya dengan salatoh rohah. Namun, saya tak pernah bertemu mereka. Jika bertemu pun, saya yakin yang memukul sudah lupa. Jika ingat, saya yakin dia akan lebih dulu meminta maaf. Lalu, jika sudah akrab, yang bersangkutan akan menambahkan kata-kata seperti yang disampaikan Ustadz Hanif, “Ah, itu kan cuma sandiwara.” :)))

Dan sandiwara, sebagus dan sejelek apapun ceritanya, akan sampai juga pada endingnya.

Bagi saya, terlalu sayang jika kita masih menyimpan dendam. Sebagaimana kita tahu, kejadian itu bersifat netral. Reaksi dan respons seseorang lah yang memicu kondisi kita berikutnya.
Kemampuan untuk melepaskan dan menerima adalah inti kekuatan untuk menghadapi semua yang akan kita hadapi ke depannya.

Sebagaimana pondok yang dulu kita tinggalkan, teramat banyak yang berubah. Dan yang tak segera berubah akan selalu kalah oleh yang cepat berubah.  Kehidupan, lengkap dgn kesalahan2nya, adlh sebuah kesempurnaan.
Memandangi kesalahan2 itu dan lalu menemukan jalan perbaikan, adlh proses menuju kebahagiaan.

Dan jika kau berusaha membalaskan dendammu, semua upayamu untuk bahagia akan sia-sia. — kata ungkapan dalam film Danny The Dog.

***

Lima belas tahun..

Kita merasa mendapatkan banyak hal di pondok. Namun lima belas tahun kemudian kita sadar bahwa yang kita kira banyak itu ternyata teramat sedikit. Kita bersyukur bahwa yang sedikit itu adalah kunci-kunci sekaligus pondasi. Tahun- tahun di pondok hanyalah pembelajaran tentang pendalaman karakter dan script dalam sebuah drama; lima belas tahun dan tahun-tahun berikutnya adalah panggung sebenarnya dalam pementasan sesungguhnya.

Reuni spinker 620

Reuni spinker 620

Saya sendiri lebih banyak diam dan mengamati cerita teman-teman. Sungguh banyak tak terduga perjalanan manusia. Kok bisa orang yang dulu mendalami ini menjadi itu. Kok lucu mereka yang bergelut di situ, sekarang malah jadi begini.

Orang-orang yang pintar di pondok dulu tak ada jaminan berhasil di luar sana. Sebaliknya mereka yang proletar juga tak melulu gagal.
Satu ilmu sederhana yang saya lihat sama, kita dibekali kemampuan sederhana namun sangat jitu kegunaannya. Kemampuan itu bernama: Kemampuan Bertahan, Kemampuan Menyadari, dan Menghibur Diri.

Disebut kemampuan karena lahir melalui proses pembiasaan yang tidak ringan. Dan tak semua orang bisa melakukan.

Kemampuan yang mampu menumbuhkan optimisme di saat susah; In the middle of difficulty, lies opportunity.

Kemampuan yang bisa memicu keyakinan kita bahwa langkah perbaikan bisa kita lakukan, dalam keadaan ruwet, dan banyak orang tak tahu harus darimana memulainya.

Kemampuan yang mendorong kita mampu memunculkan keputusan di saat-saat sulit, yang menyadarkan kita bahwa kita mampu melewati masa tersulit dalam hidup dan kemudian bangkit.

Kemampuan untuk menyelami bahwa kita pernah dipaksa bekerja sangat keras, dan ternyata itulah faktor penentu untuk sukses dlm hidup.

Kemampuan untuk memperhatikan bahwa keberuntungan banyak memihak pada mereka yang berani bersikap.

Kemampuan untuk memperhatikan bahwa pengabdian yang kita berikan akan berbalik berkali-kali lipat dari yang kita butuhkan.

Kemampuan untuk menyadari bahwa mereka yang punya aspirasi untuk memimpin mula2 harus belajar melayani.

***

Begitulah,
Lima belas tahun berlalu..
Banyak hal berubah, meski ada juga yang tetap sama, seperti nasehat Kiyai Hasan Abdullah Sahal:

“Jagalah Pondokmu, rawatlah nilai-nilai hidup di masyarakat, dst..”

Juga yang masih sama, mengutip kata-kata kawan-kawan kita, bahwa banyak di antara kita belum sembuh sempurna: Mazala bondet jami’an…

==============

Penulis : Aris Darmawan | Spinker | Discover Balikpapan | Penulis Best Seller “Dua Tangis Sejuta Damprat”

Gontorian
About Visi Kita