Blog

August 2, 2013

Yayasan Visi Kita Perkuat Tradisi Derma Indonesia

CARIKABAR.COM – Riset “Filantropi Islam” Pusat Bahasa dan Budaya UIN Jakarta 2004 menunjukan: potensi dana Muslim Indonesia dari sektor zakat, infaq, dan sedekah (ZIS) mencapai 19,3 triliun per tahun. Menurut Irvan Abubakar, koordinator riset tersebut, pasca 1998 atau sejalan dengan berakhirnya era monopoli zakat oleh negara, ada sejumlah kelemahan dan keistimewaan dalam tradisi berderma di Indonesia.

Keistimewaanya: tradisi berderma yang dimiliki oleh Muslim Indonesia yang telah terbina berabad-abad lampau masih terlestarikan. Tetapi, salah satu kelemahan yang paling menonjol adalah soal transparansi dan akuntabilitas lembaga ZIS itu sendiri.

Menurut Irvan Abubakar, yang kini menjadi Direktur Eksekutif PBB UIN Jakarta (kini lembaga tersebut bernama Center for the Study of Religion and Culture), hal tersebut dibuktikan dengan pola berderma masyarakat Indonesia langsung memberi kepada penerima ZIS.

Dalam riset tersebut, 94 persen para muzakki menyerahkan dermanya secara langsung kepada mustahik. Adapun kepada BAZIS (lembaga negara) hanya 4 persen, dan hanya 2 persen muzakki yang menyalurkan dermanya melalui LAZIS (swasta).

Minimnya kepercayaan muzakki kepada lembaga-lembaga ZIS di Tanah Air, papar Irvan, menyebabkan dana ZIS yang disalurkan bersifat karitas, alias tidak dikelola secara produktif. Irvan kemudian mencontohkan Yayasan Dompet Dhuafa sebagai model yang baik dalam pengelolaan ZIS.

“Perlu manajemen pengelolaan ZIS secara profesional seperti Dompet Dhuafa, agar menumbuhkan kepercayaan bagi muzakki, dan dana yang dikelola menjadi produktif. Misalnya, dana ZIS tersebut digunakan untuk membentuk kelompok usaha yang dibina untuk tujuan jangka panjang,” papar dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta ini kepada Carikabar.Com.

Enam Hari Rp 20 Juta

Yayasan Visi Kita (YVK), yang didirikan oleh alumni Pondok Modern Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, Periode 1999-2000 (mereka menyebut angkatan itu dengan nama “Spinker”), patut menjadi model pengumpulan sekaligus pengelolaan dana ZIS di Tanah Air.

Di Desa Leuwinutug, Citereup, Bogor, 5 Agustus 2012, sejumlah pengurus YVK menyalurkan bantuan berupa 50 buku tabungan bagi anak yatim Rp 300 ribu per orang, serta memberi beasiswa bagi 10 orang anak yatim berprestasi.

Dana derma itu disalurkan di sela-sela acara Buka Puasa Bersama dengan 500 warga Desa Leuwinutug; dilanjutkan dengan pemberian motivasi dan edukasi kepada anak yatim tentang menabung dan merancang masa depan.

Sepele memang, alias tak seberapa dibanding dengan LAZIS sekelas Dompet Dhuafa, Yayasan Daarut Tauhiid, atau Pos Keadilan Peduli Ummat (PKPU), dan sebagainya, yang telah lama berdiri dan telah mapan. Tapi untuk seukuran lembaga baru seperti YVK, berdiri pada Februari 2012 dan berbadan hukum Mei 2012, kegiatan sosial yang mereka gelar itu tergolong terobosan dalam konteks penguatan masyarakat sipil di Indonesia.

Betapa tidak. Hanya dalam waktu enam hari (28 Juli-2 Agustus 2012), YVK mampu mengumpulkan dana infak dan sedekah Rp 20 juta. Dan itu hanya digalang melalui anggota dan pengurus yayasan.

“Penggalangan dana ini hanya berasal dari patungan alumni Gontor angkatan 1999/2000, yang digalang hanya melalui sms dan email. Ringkasnya, dananya dari iuran internal pengurus dan anggota YVK sendiri,” ujar Agus Setyawan, Ketua Umum YVK, yang juga menerangkan bahwa VYK tiga bulan lalu juga mengadakan pengobatan gratis bagi 500-an warga di Desa Leuwinutug, Citereup, Bogor.

Koordinator bidang Pembangunan Ekonomi Masyarakat YVK, Zakianto Arief, merincikan, pengurus dan anggota yayasan ini adalah anak-anak muda berusia 28-35 tahun, dengan jumlah total sekitar 550 orang. Mereka tersebar di tiap provinsi di Indonesia, dan di luar negeri seperti Mesir, Malaysia, Singapura, Brunai Darussalam, Australia, Amerika, yang sedang menumpuh studi master.

Nah, dari 550 orang tersebut, dalam waktu enam hari, mereka yang memberi iuran sebanyak 47 orang, berkisar antara Rp 3 juta sampai Rp 50 ribu. Mereka, 47 orang tersebut, rata-rata berprofesi sebagai pengusaha kelas menengah-kecil; pengajar; dan profesional.

“Kami bukan lembaga pertama yang melakukan model ini. Kami hanya menguatkan serta memberi pesan bahwa program seperti ini patut dipertimbangkan untuk digelar di lain tempat, yang penggalangannya berangkat dari anggota komunitas/organisasi terdekat. Kita tahu, jumlah komunitas di Indonesia itu ribuan,” papar Hariqo Wibawa Satria, selaku Ketua Panitia penggalangan dana tersebut.

Banyak lembaga di Indonesia yang menggalang dana bantuan sosial melalui proposal. Atau juga didukung melalui pesan pendek dan email (milis) yang disebar ke segala lini, kenal maupun tidak. YVK, yang dikelola anak-anak muda ini, menggalangnya tanpa proposal. Dan itu hanya berangkat dari kalangan terdekat. Mereka, mencintai sesama bukan sebanyak yang dikatakan, tapi sebanyak yang dikerjakan.

Dus, Pondok Modern Gontor, almamater anak-anak muda YVK tersebut memang mengajarkan akan sebuah makna kemandirian dan kesadaran. Salahsatu adagium Gontor yang mereka pegang teguh sampai hari ini, “Sebesar keinsyafanmu (kesadaran), sebesar itu pula keuntunganmu”. ***

Kliping
About Visi Kita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *